hormon kortisol dan gaya hidup cepat
efek biologis dari rasa terburu-buru
Pagi baru saja dimulai, tapi jantung kita sudah berpacu seperti pelari maraton. Kita terbangun karena bunyi alarm yang memekakkan telinga, buru-buru mandi, menelan sarapan tanpa benar-benar mengunyah, lalu terjebak dalam kemacetan yang membuat dada terasa sesak. Pernahkah kita merasa seolah-olah seluruh hidup ini adalah satu tenggat waktu raksasa yang terus mengejar kita? Saya sering merasakannya. Entah mengapa, selalu ada perasaan terlambat yang menempel di bawah kulit kita. Seolah-olah jika kita diam satu detik saja, dunia akan runtuh. Ini bukan sekadar kesibukan biasa, teman-teman. Ini adalah rasa terburu-buru konstan yang diam-diam mengambil alih kendali tubuh kita.
Mari kita mundur sejenak dan melihat sejarah panjang spesies kita. Ratusan ribu tahun yang lalu di padang sabana, leluhur kita tidak mengenal macet, deadline presentasi, atau notifikasi pesan masuk yang bertubi-tubi. Bagi mereka, stres itu sederhana dan sangat situasional. Saat ada singa mengintai, tubuh mereka merespons dengan mengaktifkan mode fight or flight (lawan atau lari). Di sinilah bintang utama kita muncul: sebuah hormon yang bernama kortisol. Dalam situasi hidup dan mati, kortisol adalah pahlawan super. Ia menghentikan pencernaan, memompa gula ke dalam aliran darah, dan menajamkan fokus agar kita bisa lari sekencang mungkin. Begitu kita selamat dan kembali ke gua, level kortisol turun kembali. Masalahnya, evolusi berjalan jauh lebih lambat daripada teknologi. Otak purba kita tidak punya kemampuan untuk membedakan antara ancaman dimakan harimau saber-toothed dengan ancaman teguran dari bos di grup WhatsApp kantor.
Lalu, apa yang terjadi jika sistem alarm purba ini terus-menerus diaktifkan oleh gaya hidup modern kita? Di era di mana kita didorong untuk serba cepat, dari mulai pesan makanan fast food, kerja multitasking, hingga memutar video YouTube di kecepatan ganda, tubuh kita kebingungan. Teman-teman, pernahkah kita bertanya-tanya mengapa kita sering merasa kelelahan secara fisik yang luar biasa hebat, padahal seharian kita hanya duduk menatap layar laptop? Mengapa tidur delapan jam rasanya tidak pernah cukup untuk melunasi utang lelah tersebut? Jawabannya bersembunyi di dalam aliran darah kita sendiri. Ada sebuah proses sabotase pelan-pelan yang sedang terjadi di dalam sana, dan sayangnya, sebagian besar dari kita tidak menyadarinya sampai semuanya terlambat.
Ini dia fakta biologisnya yang cukup membuat merinding. Saat rasa terburu-buru menjadi gaya hidup standar kita, tubuh mengalami kondisi yang disebut chronic stress atau stres kronis. Keran kortisol di tubuh kita seolah-olah bocor dan mengalir tanpa henti. Secara neurologis, banjir kortisol yang konstan ini adalah bencana. Ia perlahan-lahan memperbesar amygdala, yakni pusat rasa takut dan cemas di otak kita. Hasilnya, kita jadi jauh lebih gampang panik, mudah marah, dan sangat reaktif. Di saat yang bersamaan, kortisol yang tinggi bersifat toksik bagi hippocampus, yaitu area otak yang mengurus memori dan pembelajaran. Hippocampus kita secara harfiah menyusut. Itulah sebabnya saat kita stres dan terburu-buru, kita jadi pelupa dan susah fokus.
Namun yang paling mencengangkan ada di level seluler. Riset menunjukkan bahwa kortisol berlebih memangkas ukuran telomere. Telomere adalah semacam pelindung di ujung rantai DNA kita, mirip dengan plastik kecil di ujung tali sepatu yang mencegahnya terurai. Semakin pendek telomere kita, semakin cepat sel-sel tubuh kita menua dan mati. Kesimpulannya jelas: rasa terburu-buru dan kepanikan konstan itu secara harfiah sedang memakan usia kita dari dalam.
Menyadari hal ini membuat kita berpikir ulang, bukan? Gaya hidup hustle culture yang mengagungkan kecepatan ternyata sedang meretas hardware biologis kita dengan cara yang sangat merusak. Tentu saja, saya tahu kita tidak mungkin tiba-tiba berhenti bekerja, membuang ponsel pintar, lalu pindah ke tengah hutan. Tagihan tetap harus dibayar dan tanggung jawab harus diselesaikan. Tapi mungkin, kita bisa mulai berlatih untuk berhenti meromantisasi rasa terburu-buru.
Kita punya kendali atas bagaimana kita merespons dunia luar. Saat terjebak macet, alih-alih mencengkeram setir dan mengklakson dengan marah, kita bisa mengambil napas panjang. Mari kita beri sinyal kepada otak purba kita bahwa kita sedang aman. Beri tahu tubuh kita bahwa tidak ada singa yang sedang mengejar. Dengan sesekali memperlambat ritme, kita bukan sedang bermalas-malasan atau tertinggal dari orang lain. Sebaliknya, teman-teman, kita sedang melakukan tindakan heroik untuk menyelamatkan otak, DNA, dan kewarasan kita sendiri.